www.indo-industry.com
26
'26
Written on Modified on
Pengembangan infrastruktur penyimpanan karbon lintas batas antara Indonesia dan Korea Selatan
PT Pertamina Hulu Energi, ExxonMobil Low Carbon Solutions Indonesia Limited, SK Innovation, dan SK Earthon berkolaborasi untuk mengkaji proyek penangkapan dan penyimpanan karbon lintas batas.
pertamina.com

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama ExxonMobil Low Carbon Solutions Indonesia Limited, SK Innovation dan SK Earthon menandatangani Joint Study Agreement (JSA) untuk menjajaki pengembangan proyek transboundary carbon capture and storage (CCS) antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel).
Kerja sama ini mengatasi tantangan emisi industri regional dengan memanfaatkan kapasitas penyimpanan geologi Indonesia untuk karbon dioksida yang dihasilkan di Korea Selatan. Melalui integrasi keahlian bawah permukaan, penyediaan teknologi rendah karbon, dan pengelolaan rantai pasok energi, para mitra bertujuan membangun ekosistem penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) regional. Penyelarasan multinasional ini diperlukan karena penerapan operasional penyimpanan karbon lintas batas melibatkan logistik internasional yang kompleks serta standardisasi infrastruktur digital dan teknis yang ketat.
Kerangka kerja sama dan pembagian tanggung jawab
Solusi teknis yang dikaji berpusat pada pengiriman karbon dioksida (CO2) dari Republik Korea untuk disimpan secara permanen di CCS Hub Asri Basin yang terletak di Indonesia. Berdasarkan Joint Study Agreement (JSA) yang disepakati, tanggung jawab teknis didistribusikan di antara para mitra:
- PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menyediakan kapasitas penyimpanan bawah permukaan di wilayah kerja Indonesia serta mengelola regulasi domestik dan aspek infrastruktur lokal.
- ExxonMobil Low Carbon Solutions Indonesia Limited mengintegrasikan keahlian teknologi energi rendah karbon untuk perencanaan sumur injeksi dan pemantauan bawah permukaan.
- SK Innovation dan SK Earthon memfasilitasi pengumpulan emisi dari sumber industri di Korea Selatan, manajemen transportasi logistik, serta pengembangan rantai nilai CCS hulu ke hilir.
Sistem terintegrasi ini berfungsi dengan menyelaraskan volume emisi yang ditangkap di Korea Selatan dengan laju injeksi sumur penyimpanan di Indonesia, menggunakan standar keselamatan internasional untuk menjamin integritas struktural formasi geologi penampung.
Pelaksanaan studi dan integrasi infrastruktur
Kerja sama ini diresmikan melalui penandatanganan JSA pada kegiatan Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di ICE BSD, Tangerang, pada Rabu, 20 Mei 2026. Langkah ini merupakan kelanjutan dari Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani sebelumnya di Korea Selatan pada 1 April 2026 dalam agenda Indonesia-Korea Business Forum.
Fase implementasi saat ini berfokus pada pelaksanaan studi pendahuluan dan studi kelayakan teknis (feasibility study) untuk rute lintas batas. Evaluasi rekayasa mencakup pemetaan interkoneksi logistik, pertukaran pengetahuan rantai nilai CCS, serta penyusunan kerangka kerja teknis terintegrasi yang mencakup standardisasi operasional dan pengkondisian tekanan CO2 selama pengapalan.
Aplikasi industri dan manfaat operasional
Aplikasi utama dari proyek dekarbonisasi ini adalah penyediaan solusi mitigasi emisi skala besar untuk sektor industri berat dan pembangkit listrik di kawasan Asia Pasifik yang tidak memiliki akses langsung ke formasi penyimpanan geologi lokal. Kasus penggunaan teknis yang konkret melibatkan penangkapan gas CO2 industri, likuifaksi untuk pengangkutan laut, dan injeksi subsurface yang aman di Asri Basin.
Dengan menerapkan pendekatan terintegrasi ini, operator fasilitas dapat mencapai stabilitas proses jangka panjang dalam program dekarbonisasi mereka. Penalaran teknis untuk penerapan sistem ini didasarkan pada minimalisasi risiko operasional melalui pemanfaatan formasi batuan penutup (caprock) yang teruji, yang mencegah migrasi gas kembali ke atmosfer dan memastikan maintainability sistem pemantauan tekanan sumur.
Perkiraan dampak ekonomi dan teknis
Realisasi penuh dari proyek CCS lintas batas ini diproyeksikan memberikan dampak struktural yang signifikan pada kapasitas infrastruktur rendah karbon di Indonesia. Berdasarkan perhitungan dan kajian data dari PHE, investasi kumulatif pada tingkat proyek (cumulative project-level investment value) diperkirakan berpotensi menarik modal hingga USD 600 juta ke Indonesia sebagai penyedia kapasitas penyimpanan.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja dan skala konstruksi, pemodelan teknis menunjukkan bahwa proyek ini diperkirakan dapat menciptakan hingga 2.000 lapangan kerja selama fase konstruksi untuk setiap kapasitas penyimpanan CO2 sebesar 1 juta ton per tahun (MTPA). Sinergi ini memastikan bahwa operasional penangkapan emisi tetap sinkron medukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) global.
Disunting oleh Romila DSilva, Editor Induportals, dengan bantuan AI.
Pelaksanaan studi dan integrasi infrastruktur
Kerja sama ini diresmikan melalui penandatanganan JSA pada kegiatan Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di ICE BSD, Tangerang, pada Rabu, 20 Mei 2026. Langkah ini merupakan kelanjutan dari Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani sebelumnya di Korea Selatan pada 1 April 2026 dalam agenda Indonesia-Korea Business Forum.
Fase implementasi saat ini berfokus pada pelaksanaan studi pendahuluan dan studi kelayakan teknis (feasibility study) untuk rute lintas batas. Evaluasi rekayasa mencakup pemetaan interkoneksi logistik, pertukaran pengetahuan rantai nilai CCS, serta penyusunan kerangka kerja teknis terintegrasi yang mencakup standardisasi operasional dan pengkondisian tekanan CO2 selama pengapalan.
Aplikasi industri dan manfaat operasional
Aplikasi utama dari proyek dekarbonisasi ini adalah penyediaan solusi mitigasi emisi skala besar untuk sektor industri berat dan pembangkit listrik di kawasan Asia Pasifik yang tidak memiliki akses langsung ke formasi penyimpanan geologi lokal. Kasus penggunaan teknis yang konkret melibatkan penangkapan gas CO2 industri, likuifaksi untuk pengangkutan laut, dan injeksi subsurface yang aman di Asri Basin.
Dengan menerapkan pendekatan terintegrasi ini, operator fasilitas dapat mencapai stabilitas proses jangka panjang dalam program dekarbonisasi mereka. Penalaran teknis untuk penerapan sistem ini didasarkan pada minimalisasi risiko operasional melalui pemanfaatan formasi batuan penutup (caprock) yang teruji, yang mencegah migrasi gas kembali ke atmosfer dan memastikan maintainability sistem pemantauan tekanan sumur.
Perkiraan dampak ekonomi dan teknis
Realisasi penuh dari proyek CCS lintas batas ini diproyeksikan memberikan dampak struktural yang signifikan pada kapasitas infrastruktur rendah karbon di Indonesia. Berdasarkan perhitungan dan kajian data dari PHE, investasi kumulatif pada tingkat proyek (cumulative project-level investment value) diperkirakan berpotensi menarik modal hingga USD 600 juta ke Indonesia sebagai penyedia kapasitas penyimpanan.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja dan skala konstruksi, pemodelan teknis menunjukkan bahwa proyek ini diperkirakan dapat menciptakan hingga 2.000 lapangan kerja selama fase konstruksi untuk setiap kapasitas penyimpanan CO2 sebesar 1 juta ton per tahun (MTPA). Sinergi ini memastikan bahwa operasional penangkapan emisi tetap sinkron medukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) global.
Disunting oleh Romila DSilva, Editor Induportals, dengan bantuan AI.

